70’s Indorock: Membuka Gerbang Rock Indonesia

October 31, 2021 0 By Mila Karmilla

Memasuki dekade 70-an, rock Indonesia sempat mengalami dua fase: meroket dan melemah. Di awal dekade ini, band-band rock Indonesia merilis album dan tampil di berbagai kota. Antusiasme di era ini terbantu dengan persebaran majalah seperti Aktuil, yang kerap mengulas band rock, dan radio sebagai media penyebaran musik terluas pada saat itu.

Baca Juga: Clean Boost Pedal: Fungsi dan Alasan Memilihnya

Musik rock kemudian melemah pada akhir dekade 70-an, lantaran popularitas musik pop yang semakin mendominasi tangga lagu dan radio. Hal ini disebabkan oleh keputusan cukong rekaman yang mendorong album-album pop. Di awal dekade ini, band-band rock mengatasi hal ini dengan menyelipkan beberapa nomor pop, ballad atau melayu di album mereka. Namun lama kelamaan, band seperti God Bless dan Superkid meminimalisir jumlah lagu pop, ballad, dan melayu.

Pada periode ini istilah underground juga menemukan bentuknya. Beberapa band yang kalah populer ketimbang grup dan penyanyi pop tampil sebagai antitesis, musik alternatif yang dinikmati kalangan terbatas. Aksi panggung yang eksentrik dan kekuatan sound rock yang belum dilemahkan menjadi andalan AKA, Ternchem, Superkid dan God Bless. Berikut adalah beberapa album pengantar ke dalam dunia rock Indonesia era 70-an.

1. AKA – Do What You Like (1970)

Penggemar rock Indonesia mengenal AKA (Apotik Kali Asin, milik orang tua Ucok) lewat aksi teatrikal Datoe Oloan “Ucok” Harahap di panggung, baik berjingkrak bak kuda lumping atau keluar dari peti mati. Keputusan lain AKA yang tak kalah eksentrik adalah memainkan tiga nomor rock/funk (“Do What You Like”, “Glenmore” dan “We’ve Gotta Work It Out”) bersamaan dengan pop/ballad (“Akhir Kisah Sedih”, “Panorama Pagi”, dan “Keagungan Tuhan”) di satu album. Do What You Like adalah pengantar penting rock Indonesia 70-an, era di mana mayoritas band rock harus menyertakan nomor pop ballad/melayu bila ingin albumnya laku dan tetap ingin membawakan musik rock.

2. Panbers – Volume 1 (Kami Tjinta Perdamaian) (1971)

Di album ini Pandjaitan Bersaudara menunjukkan bagaimana benang merah psikedelia bisa dijahit di semua lagu, baik nomor pop/ballad atau psychedelic rock era Revolver. Kentalnya organ dan petikan gitar mengawang muncul di “Hanja Semusim Bunga”, “Kami Tjinta Perdamaian”, “Djakarta City Sound” dan “Colour of Your Heart”. Volume I memperdengarkan kemahiran Panbers menulis lagu, kualitas yang mereka bawa sampai musik mereka berubah total menjadi pop ballad di pertengahan 80-an.

3. Ternchem – Group Ternchem (1972)

Selain AKA, band lain yang terkenal lewat teatrikal panggung mengejutkan adalah Ternchem. Motor aksi tersebut adalah Bernard (vokal), yang beraksi bak orang kesurupan, membawa ular ke panggung, hingga menyemburkan api di panggung. Penampilan Ternchem tak kalah garangnya dibanding komposisi dan sound mereka. Seluruh lagu Ternchem di album ini menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa, pembeda mereka dengan band-band rock lain di dekade ini. Mencomot sound Grand Funk Railroad, Deep Purple dan Led Zeppelin dari siaran radio, Ternchem memainkan rock di atas struktur musik tradisional dan pop ballad. Hasilnya? Cukup mengesankan mengingat mereka adalah band rock pertama yang menggunakan idiom  “Jaman Edan” di atas sayatan gitar psikedelik bertemu kroncong sebagai hits utama.

4. Freedom of Rhapsodia – Freedom of Rhapsodia (1972)

Pernah mendengar nama Deddy Dores? Sebagian besar dari kita mengenalnya sebagai penyanyi pop ballad dan penulis lagu untuk Nike Ardilla. Jauh sebelum itu, Deddy pernah menghuni Freedom of Rhapsodia (setelah ia hengkang ke God Bless berubah menjadi Freedom), ia membawakan nomor hard rock “Freedom” dan “Hilangnya Seorang Gadis”, hits yang populer sampai pertengahan 90-an. Freedom of Rhapsodia membawakan dua genre itu dengan komposisi sederhana yang mudah dinikmati, cikal bakal pop rock Indonesia.

5. Shark Move – Gede Chokra’s (1973)

Shark Move adalah band yang berumur paling pendek dari sekian proyek musik rock Benny Soebardja. Dirilis secara mandiri, Gede Chokra’s adalah album progressive rock terunik yang paling terlambat terekspos di tanah airnya sendiri. Lagu-lagu di album ini selain memiliki komposisi megah dan instrumentasi yang variatif (flute, hammond), juga berbicara tentang realita sosial era 70-an dengan setelanjang mungkin. “Evil War” adalah kritik terhadap G30S, sementara “Madat” merupakan nomor rock sendu anti-narkotika, jauh sebelum Minor Threat menulis lirik “Straight Edge”.

6. The Gang of Harry Roesli – Philosophy Gang (1973)

Philosophy Gang adalah satu dari sekian proyek musik berpengaruh karya Harry Roesli. Dirilis melalui Lion Records di Singapura, Philosophy Gang sempat dicekal peredarannya di Indonesia lantaran sampul yang menampilkan figur telanjang. Philosophy Gang memuat embrio eksperimentasi musik Harry di kemudian hari (terutama album Ken Arok, 1977), seperti sound jazz, funk, rock dan soul. Elemen-elemen tersebut bergandengan dengan lirik filosofis, terkadang introspektif (“Don’t Talk About Freedom”), satir dan menyindir (“Peacock Dog”) atau kritis tanpa basa-basi (“Malaria”). Album ini adalah gerbang pertama musik progresif Indonesia dan salah satu yang terbaik, tentunya.

7. God Bless – God Bless (1976)

Album ini dirilis tengah tren pop yang mendominasi radio. Bermodalkan komposisi megah dan rumit, popularitas musik ini melambung tinggi meninggalkan rock. God Bless dirilis di waktu yang tepat; ia keras, mentah dan lugas. Di beberapa lagu (“Setan Tertawa”, “Sesat” dan “Rock di Udara”) distorsi gitar Ludwig Lemans terdengar kasar menghujam. Kemahiran instrumentasi God Bless adalah salah satu daya tarik utama album ini, terutama permainan kibor Jockie Surjoprajogo. Karier legendaris mereka berawal dari album ini.

8. Superkid – Troublemaker (1976)

Jangan kaget kalau kamu melihat album yang sempat langka ini di rak musik mall terdekat. Troublemaker memang sempat dirilis ulang oleh Bravo Music pada tahun 2013 dalam format CD. Di album ini rock paling keras di masanya dapat kita temui, tak heran mengingat band ini diperkuat ‘trio bengal’ Deddy Stanzah (eks The Rollies, vokal/gitar), Deddy Dores (vokal, piano/kibor), dan Jelly Tobing (drum). Mereka mengeksplorasi berbagai spektrum rock (walau masih menyelipkan nomor pop/ballad), blues ala The Rolling Stones, komposisi Deep Purple, hingga lengkingan harmonika hadir di Troublemaker.

9. Giant Step – Giant On The Move (1977)

Di paruh kedua dekade 70-an, tak hanya hard rock yang kembali dihidupkan oleh God Bless dan Superkid, progressive rock juga menemukan pendengarnya lewat Giant Step. Berbeda dengan Mark I (1975), Giant Step berkembang pesat di album Giant On The Move. Di album kedua ini, Giant Step sepertinya terpengaruh band-band progressive rock asal Britania Raya seperti Yes, Genesis, Gentle Giant, dan ELP. Pada Giant On The Move, komposisi serta instrumentasi mereka semakin kompleks. Melalui album ini, Giant Step membuka jalan bagi band-band progressive rock Indonesia setelahnya untuk memainkan lagu bertema apapun (cinta, kritik lingkungan, kebingungan) dengan komposisi kompleks tanpa ampun.

10. Abbhama – Alam Raya (1978)

Share Button