5 Band Rock Era 80-an yang Masih Eksis hingga Saat Ini

November 1, 2021 0 By Mila Karmilla

Jamrud, Elpamas, Slank, Roxx dan God Bless. (Foto: Instagram @jamrud_official @slankdotcom, Facebook/ELPAMAS, Facebook/ROXX, Prabarini Kartika/kumparan)

Industri musik Indonesia selalu berkembang dari zaman ke zaman. Berbagai jenis musik, mulai dari boyband, melayu, hingga hip-hop, pernah menjadi tren di kalangan anak muda.

Seiring berjalannya waktu, grup musik baru banyak yang bermunculan. Namun, hal itu tidak membuat grup musik yang sudah lama eksis di belantika musik Indonesia menghilang. Bahkan, mereka tetap berkarya hingga kini.

kumparan mencoba merangkum lima band rock yang tenar di era 80-an dan masih tetap bertahan hingga kini. SLANK. (Foto: Instagram@slankdotcom)

Pada mulanya, Bimo ‘Bimbim’ Setiawan Almachzumi merupakan seorang penggebuk drum dari band Cikini Stones Complex (CSC). Dalam penampilannya mereka membawakan lagu-lagu Rolling Stone. Merasa bosan, Bimbim pun membubarkan CSC dan pada 1983 membentuk grup musik Red Devil bersama Kiki (gitar), Erwan (vokal), Bongky (gitar) dan Denny (bas gitar).

Setiap kali tampil, Red Devil sering membawakan lagu-lagu dari Van Hallen dan Rolling Stone. Namun, karena tingkah para personel, lagu-lagu Van Hallen dan Rolling Stone yang mereka bawakan justru tak pernah memiliki mirip dengan versi aslinya.

Nama Slank pun akhirnya tercetus untuk menggantikan nama Red Devil karena dirasa lebih cocok dan sesuai dengan kepribadian para personel. Untuk mengumumkan pergantian nama mereka, Slank pun tampil di festival band KMSS di Istora Senayan, Jakarta Selatan. Slank formasi 13 (Foto: Istimewa)

Melalui berbagai perombakan tanpa satu pun album, Slank akhirnya menelurkan album perdana bertajuk ‘Suit – Suit… He.. He.. Gadis Sexy’ pada 1989 bersama formasi ke-13, Kaka (vokal), Bimbim (drum), Bongky (bas gitar), Pay (gitar), dan Indra Q (keyboard).

Setelah meriis lima album sejak 1989 hingga 1996, Slank formasi ke-13 akhirnya hancur karena narkoba yang di masa itu banyak menyerang anak-anak remaja. Masih dibawah pengaruh candu putau, Bimbim secara sepihak memecat Bongky, Indra Q, dan Pay. Slank yang berjalan dengan dua personel, Bimbim dan Kaka, sempat menelurkan album ‘Lagi Sedih’ (1997).

Satu tahun lamanya Bimbim dan Kaka tak punya semangat untuk bermusik meneruskan karier Slank, bahkan sempat ingin memutuskan untuk membubarkannya pada 1997. Pesan dari tinta darah yang dikirimkan oleh fans membuat Bimbim terenyuh dan urung membubarkan Slank.

Pada 1998, Slank kembali hidup dengan album ‘Tujuh’ bersama tiga personel baru, Ivan (bas gitar), Ridho (gitar), dan Abdee (gitar), yang tergabung dalam formasi ke-14. Hingga kini, Slank masih terus mengudara dan Slankers, sebutan bagi penggemar mereka, semakin bertambah banyak. Bermula dari gaya hidup para personel yang berubah 180 derajat, kini Slank jadi salah satu band yang aktif mendukung kegiatan sosial, seperti anti rokok, pendukung KPK, dan menjaga kelestarian botani laut. Godbless saat jumpa pers festival musik Rock (Foto: Munady Widjaja/kumparan)

Pulang ke Indonesia setelah lama menetap di Belanda, Ahmad ‘Iyek’ Albar dan Ludwig Lemans mulai berpikir untuk membentuk sebuah band rock yang terinspirasi dari band-band era 70-an di Eropa. Pada 1973, God Bless pun terbentuk dengan formasi awal Iyek (vokal), Ludwig (gitar), Fuad Hassan (drum), Yockie Suryoprayogo (keyboard) dan Donny Fattah (bas gitar).

Setelah Yockie memutuskan untuk hengkang dan nama God Bless kian tersohor di industri musik Indonesia, Fuad Hassan dan Soman Lubis, keyboardist yang menggantikan posisi Yockie, meninggal dunia karena kecelakaan pada 1974. Kepergian mereka membuat proses penggarapan God Bless tertunda dan album self-titled perdana mereka akhirnya baru rampung pada 1975.

Memasuki era 80-an, formasi God Bless semakin mantap setelah Abadi Soesman masuk menggantikan mendiang Soman Lubis. Kombinasi Iyek (vokal), Abadi (keyboard), Donny (bas gitar), serta dua personel baru, Ian Antono (gitar), dan Teddy Sujaya (drum) sukses membuat God Bless lancar dalam merampungkan album kedua bertajuk ‘Cermin’. Karena album ‘Cermin’ dinilai terlalu idealis dan kurang cocok dengan kuping orang Indonesia yang saat itu gemar mendengarkan lagu pop ballad, God Bless sempat kelimpungan mencari cara untuk meramu musik yang atraktif, sebelum akhirnya album ‘Semut Hitam’ dirilis pada 1989. God Bless (Foto: Facebook @godblessrocks)

‘Semut Hitam’ merupakan awal kesuksesan God Bless di blantika musik Indonesia. Masih dengan nuansa musik progresif rock yang rumit, lirik yang bertemakan sosial, serta melodi gitar yang indah hasil karya Ian Antono membuat karya-karya God Bless banyak digunakan sebagai lagu wajib di kompetisi band era 80-an dan 90-an.

Sejak 2002, karier God Bless agak tersendat karena kebiasaan Iyek menggunakan narkoba. Pada 2007 Iyek berserta anaknya, Fachri Albar, tertangkap oleh pihak berwajib karena kepemilikan narkoba dan nasib God Bless pun benar-benar habis.

Setelah Iyek keluar dari penjara pada 2008, God Bless baru bisa mulai kembali berkarya. Tahun lalu God Bless sukses menelurkan album ketujuh mereka yang bertajuk ‘Cermin 7’. Tahun ini, God Bless punya rencana untuk melangsungkan konser tunggal dengan tujuan merayakan ulang tahun ke-45. Mereka berkolaborasi dengan Sys NS. Namun, pada 23 Januari lalu Sys meninggal dunia dan hingga saat ini rencana konser tunggal God Bless pun belum menemui titik temu. Roxx. (Foto: Facebook/ROXX)

Roxx yang mulai terbentuk pada 1987 merupakan hasil penggabungan dari dua band rock lawas, Navy Punk dan Skull. Dengan formasi awal Trison (vokal), Jaya (gitar), Iwan (gitar), Tony (bas gitar), dan Arry (drum), Roxx dikenal sebagai band yang gemar membawakan lagu-lagu glam rock milik Motley Crue, Def Leppard, dan Whitesnake.

Ingin membedakan identitas bermusiknya dari band-band rock yang ada di masa itu, Arry sang drummer mengambil ide gila. Ia mengganti snare drum-nya dengan snare marching band yang lebar. Mereka mulai memainkan lagu-lagu dari band thrash metal, seperti Metallica, Anthrax, dan Testament. Ide Arry inilah yang digadang-gadang sebagai awal dimulainya scene musik underground di Indonesia.

Baru merilis satu lagu berjudul ‘Rock Bergema’ pada 1989, Roxx sudah berani untuk mengikuti Festival Rock Log Zhelebour. Dengan aksi panggung Arry yang unik dan lagu yang tak biasa di eranya, Roxx pun sukses memenangkan Festival Musik tersebut dan mendapat kesempatan untuk merampungkan album self-titled perdana pada 1992. Band metal Roxx (Foto: Munady Widjaja)

Setelah merampungkan dua album, Arry meninggal dunia pada 1999. Kepergian sang drummer eksentrik itu membuat nasib Roxx kian terombang-ambing. Trison memutuskan untuk hengkang dan bergabung bersama Edane, sedangkan Jaya, bertemu dengan Ahmad Dhani dan mendirikan band grunge bernama Ahmad Band.

Roxx baru kembali lagi ke blantika musik Indonesia pada 2004 bersamaan dengan dirilisnya album ‘Bergema Lagi’. Trison sudah kembali mengisi posisi vokal, Tony dan Iwan pun masih memainkan instrumen yang sama, sedangkan Jaya yang mengundurkan diri digantikan oleh seorang additional player bernama Didi Crow. Saat itu, Roxx sengaja tak merangkul pemain drum baru untuk mengenang lima tahun kepergian mendiang Arry.

Album terakhir yang ditelurkan Roxx adalah ‘Jauh Dari Tuhan’ (2013) dengan formasi baru Trison (vokal), Jaya (gitar), Tony (gitar), Iwan (bas gitar), Didi Crow (gitar) dan Raiden (drum). Sosok Raiden yang menggantikan Arry adalah drummer yang dahulu sempat memperkuat beberapa band, seperti Juliette, The Fly dan Bunga. Ia kini semakin dikenal publik setelah pada 8 Juni 2017 menikahi aktris cantik, Tyas Mirasih.

Meski Jaya kembali mengundurkan diri setelah manggung di Jakcloth 2016, Roxx kini sering terlihat mengisi di berbagai festival-festival besar, seperti Pekan Raya Jakarta, Big Bang Festival, dan Soundrenaline. Band Jamrud. (Foto: Instagram @jamrud_official)

Pada 1984, gitaris asal Cimahi, Jawa Barat, Aziz Mangasi membentuk sebuah grup musik bernama Jam Rock bersama tiga rekannya, Ricky Teddy (bas gitar), Agus (drum), dan Oppi (vokal). Terus membawakan lagu-lagu orang lain, pamor Jamrock baru mulai meningkat saat Krisyanto menjadi vokalis menggantikan posisi Oppi.

Pada 1995, Jamrock mulai mencoba membuat demo lagu karya sendiri dan menawarkannya pada label rekaman Log Zhelebour. Mendapat sambutan yang baik, Log Zhelebour meminta agar nama Jamrock diganti dengan Jamrud sebelum album perdana mereka yang bertajuk ‘Nekad’ rilis pada 1996.

Kesuksesan album tersebut membuat Jamrud tak bisa berhenti menelurkan karya. Hanya dalam kurun waktu dua tahun setelah album ‘Nekad’, Jamrud sukses merilis album ‘Putri’ (1997) dan ‘Terima Kasih’ (1998) yang laku keras dipasaran.

Seiring berjalannya waktu, kepopuleran musik rock dikalangan remaja pun mulai bergeser tergantikan oleh musik boyband yang menggaung di era 2000an. Karena itu, Krisyanto memutar otak dan mulai mengundurkan diri. Ia merilis album pop solo bertajuk ‘Mimpi’ (2009).

Share Button