5 Band Metal Indonesia yang Go International

October 31, 2021 0 By Mila Karmilla

Deadsquad, Burgerkill, Jasad. (Foto: Instagram/@burgerkillofficial/@jasad_official/@deadsquad.official)

Metal merupakan musik yang telah berkembang di Indonesia sejak era ’90-an. Banyak musisi-musisi metal berbakat dari Indonesia yang mampu membuat karya hebat dan bersaing di kancah internasional.

kumparan telah mendata lima band metal Indonesia yang sukses mengguncang dunia. Beberapa di antaranya sudah berkali-kali menginjakkan kaki di tanah Eropa, sedangkan yang lainnya sukses menjajah berbagai festival musik di Asia. Ini daftarnya. Deadsquad. (Foto: Instagram/@deadsquad.official)

Meski saat ini hanya tersisa dua personel asli di tubuh Deadsquad, Stevi Item dan Daniel, grup musik dengan genre technical death metal ini masih belum berhenti berkarya. Usai merilis album ‘Tyranation’ pada 2016, posisi bas gitar dan drum yang mulanya diisi Arslan dan Gorust digantikan oleh Agung (bas gitar) dan Alvin (drum).

Dengan formasi baru, Deadsquad kian menunjukkan tajinya di industri musik metal dunia. Pada Juni lalu, Deadsquad menjajah Jepang selama 5 hari di berbagai kota, termasuk Osaka, Nakano, dan festival musik Everloud. Nama mereka pun selalu berada di paling atas dan mendominasi banyak grup musik Jepang, seperti The Kandarivas, Cyberne, dan Handsome Bob.

Tak cuma menjajah Jepang, dengan formasi baru, Deadsquad juga merilis single ‘Blessphemy’ dalam split album bertajuk ‘3593 Miles of Everload Musick’ bersama The Kandarivas. Minggu lalu, video musik dari single tersebut dirilis di YouTube.

Sebelum tur Jepang tahun ini, Deadsquad juga pernah merajai panggung-panggung di Jepang pada 2016. Bermodalkan album ‘Tyrannation’, Deadsquad menghantam lima kota, termasuk Yokohama dan Tokyo. Hal tersebut jadi bukti bahwa Deadsquad bisa diterima dengan baik oleh pecinta musik metal internasional, khususnya Jepang.Burgerkill (Foto: facebook.com/Burgerkill666)

Berasal dari Ujung Berung, Bandung, Ivan (vokal) beserta tiga kawannya, Eben (gitar), Kimung (drum), dan Dadan (bas gitar), membentuk grup musik hardcore bernama Burgerkill pada 1995. Dalam waktu lima tahun, Burgerkill sudah dicintai ribuan Begundal–sebutan untuk fans Burgerkill–dari seluruh kota di Indonesia dan sukses memperkenalkan musik hardcore di skena bawah tanah.

Berhasil jadi band hardcore pertama yang dikontrak oleh major label sekelas Sony Music Entertainment Indonesia dan merilis dua album–‘Berkarat’ (2003) dan ‘Beyond Coma and Despair’ (2006)–, Burgerkill harus dirundung duka lantaran Ivan mengidap penyakit meningitis dan meninggal dunia pada akhir 2006. Tak mau perjuangan Ivan berakhir sia-sia, para personel Burgerkill kemudian menggaet Vicki sebagai vokalis baru pada 2007.

Bersama Vicki, Burgerkill sukses merampungkan album ‘Venomous’ (2011) dan memenangkan kategori ‘Metal As F**k’ dari penghargaan musik asal Inggris, Golden Gods 2013. Mereka mengalahkan Jason Newsted, Pussy Riot, Nergal, dan Sea Shepherd. Prestasi tersebut membuat Burgerkill kian dicintai oleh penikmat musik keras di Eropa.

Pada 2015, Burgerkill ditemani Jasad, menjadi dua band Bandung pertama yang menggelar tur di Eropa. Jika Jasad mengisi di dua festival, Bloodstock Open Air di Inggris dan Obscene Extreme Fest di Ceko, Burgerkill menghajar panggung di Bloodstock Open Air, Inggris dan Wacken Open Air, Jerman.

Maret lalu, Burgerkill kembali ke Eropa dan menggelar konser di dua kota di Belanda, Den Bosch dan Amsterdam. Oktober mendatang, Burgerkill sekali lagi diminta untuk bertandang ke Amsterdam, Belanda, dan bermain di salah satu festival kecil di kota tersebut. Jasad (Foto: Instagram/@jasad_official)

Didirikan oleh Yuli (bas gitar) sejak 1990, grup musik Jasad yang mengusung aliran musik brutal death metal sangat sering berganti-ganti personel. Setelah merilis EP ‘C’est La Vie’ (1996), Jasad yang baru solid dengan formasi Man (vokal), Ferly (gitar), Yuli (bas gitar), dan Dani (drum).

Meski nama Jasad jarang mencuat ke permukaan industri musik Indonesia, mereka merupakan salah satu mesin penggerak komunitas death metal yang menjamur tak hanya di Bandung, namun juga seluruh Indonesia. Musik ekstrem serta lirik provokatif yang Jasad ciptakan mendorong banyak musisi di era 2000 hingga 2010-an untuk membentuk grup musik serupa dan meramaikan skena bawah tanah Indonesia.

Pada 2013, Jasad merilis album ke-3 bertajuk ‘Rebirth of Jatisunda’ yang berisikan banyak lagu dengan lirik berbahasa Sunda. Pada 2015, Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung tertarik untuk membantu proses pembuatan visa agar Jasad bisa terbang ke Eropa untuk tampil di Obscene Extreme Fest dan Bloodstock Open Air.

Benar saja, Jasad dapat respons positif dari para pecinta musik keras di Eropa. Tahun ini, Jasad kembali ke Eropa untuk tampil di dua festival besar musik metal , Brutal Assault Festival di Ceko dan Wacken Open Air di Jerman.Beside. (Foto: Instagram/@besideofficial)

Sempat gonta-ganti personel, Beside kini telah solid dengan formasi Agung Suryana (vokal), Roy Nat Siregar (gitar), Tri Afrizal (bas), Rizky Aditya (gitar), dan Achmad Rustandi (drum). Grup musik dengan genre metalcore ini sempat menarik perhatian pecinta musik metal Eropa saat bermain di festival Wacken Open Air pada 2017.

Tampil di Headbanger’s Stage, Beside sukses membius lebih dari 10 ribu penonton dengan empat lagu yang dibawakan, yakni ‘Eleven Heroes’, ‘Ambisi Arogansi’, ‘Under Hollow’, dan ‘Dead of War’. Beside bisa tampil menghibur di Wacken Open Air setelah mengikuti sebuah kompetisi band dan mengalahkan lebih dari 200 band pesaing mereka yang datang dari seluruh penjuru Indonesia.

Tahun ini, Beside tidak kembali ke tanah Eropa dan memilih untuk melakukan tur di wilayah Asia Tenggara. Juli lalu, Beside berkeliling ke banyak kota di tiga negara, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.Down For Life (Foto: Instagram/@downforlifesolo)

Down For Life merupakan grup musik asal Solo, Jawa Tengah, yang sudah berdiri sejak 1999. Meski awalnya memainkan musik-musik hardcore, band yang kini digawangi oleh Stephanus Adjie (vokal), Ahmad ‘Jojo’ Ashar (bas gitar), Rio Baskara (gitar), Isa Mahendrajati (gitar), dan M. Abdoel Latief (drum) itu kini bertransformasi menjadi band metalcore yang liar dan ganas.

Hampir 20 tahun menjadi raja di tanah Jawa, tahun ini Down For Life berkesempatan untuk terbang ke Eropa dan tampil di Wacken Open Air, Jerman. Membawa budaya Indonesia melalui kostum batik yang dikenakan, Down For Life dinilai sukses menghibur para penikmat musik metal.

Down For Life adalah grup musik yang berhasil main di Wacken Open Air berkat kompetisi yang sama seperti Beside. Namun, jumlah band yang dikalahkan oleh Down For Life jauh lebih banyak, yakni 322 band dari 72 kota di Indonesia.

Rencananya, Down For Life punya keinginan untuk menggelar tur keliling Asia dalam waktu dekat. Sayang, beberapa rencana agak tersendat lantaran Isa tengah dirundung duka setelah ayahnya meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Share Button