10 Band Rock Jadul Indonesia Dekade 70 an – Terselubung

October 31, 2021 0 By Mila Karmilla

Di Indonesia tahun 1970an menjadi masa penting perkembangan musik Indonesia. Banyak solois dan band baru lahir di dekade ini. Rhoma Irama juga anak zaman yang populer pada dekade ini dengan musik dangdut yang kadang dibalut sound gitar ala Deep Purple. Nama-nama macam Koes Plus, Panbers, D’lloyd dan lain-lain begitu popular sehingga menjadi idola. Bagaimana gentre rock kala itu? Musik popular Indonesia dengan anak terlarangnya yaitu musik rock pada decade 1970-an dalam catatan sejarah cukup memberikan pengaruh yang krusial bagi perkembangan musik Indonesia di masa yang akan datang. Tak ayal lagi hal itu terbukti dari perbincangan yang tidak akan ada hentinya apabila kita mengulas kembali denyut nadi perkembangan musik rock pada dekade tersebut.

Meski tak banyak band rock Indonesia yang sukses dalam rekaman, namun sebagian besar menuai kesuksesan dalam setiap aksi panggungnya. Elu-elu, yel yel dan antusiasme penonton menjadi warna tersendiri bagi band rock meski terkadang melahirkan cemoohan apabila aksi panggung kurang prima. Akan tercatat dalam sejarah bahwa musik rock Indonesia tahun 70’an memberikan kontribusi terhadap perkembangan musik Indonesia. 1. AKA

Grup musik rock AKA (singkatan dari Apotik Kali Asin, apotek milik orang tua Ucok Harahap, tempat mereka bermarkas dan latihan) dibentuk di Surabaya pada 23 Mei 1967 dengan formasi awal: Ucok Harahap (keyboard/vokal utama), Syech Abidin (drum/vokal), Soenata Tanjung (guitar utama/vokal), Harris Sormin (guitar/vocal) dan Peter Wass (bass). Peter Wass digantikan oleh Lexy Rumagit karena cedera ketika granat yang disiapkan untuk aksi panggung grup rock Ogle Eyes di Lumajang tiba-tiba meledak dan melukainya. Sejak 1969, Lexy Rumagit digantikan oleh Arthur Kaunang. Yang patut dicatat, semua pemain bass AKA adalah pemain kidal.

Ciri khas dari grup rock ini adalah kerap membawakan lagu-lagu Led Zeppelin, Grand Funk Railroad, Deep Purple, dan Jimi Hendrix, notabene waktu itu memang digemari anak-anak muda. Karena aksi panggung yang heroic, AKA dikenal sebagai grup rock eksentrik. Tak hanya di panggung, AKA juga telah meluncurkan beberapa album. Pada album pertama mereka, Do What You Like (1970), terdapat lima lagu berbahasa Indonesia dan tiga lagu berbahasa Inggris (Do What You Like, I’ve Gotta Work It Out, dan Glenmore). Meski dibentuk di tahun 1967, AKA TS masukkan ke daftar band rock Indonesia tahun 70an karena mereka baru eksis di era 70an.2. SAS

Sepeninggal Ucok yang lebih memilih jalur solo, AKA akhirnya memutuskan bubar. Tiga personil sisa, membentuk kelompok baru, SAS, yang merupakan kependekan dari nama depan mereka. SAS inilah yang kemudian melambungkan nama Sonata Tanjung, Artur Kaunang, dan Syeck Abidin sebagai senior rock. Perpaduan Artur Kaunang sebagai basis (meski tangannya kidal), Syech Abidin (dram), dan Sonata Tanjung (gitar), betul-betul mengagetkan komunitas rock di Indonesia.SAS merekam album pertamanya Baby Rock tahun 1976. Album ini menembus sampai Australia. Arthur memberi pengaruh yang kenal pada SAS sehingga grup tersebut lebih condong ke jenis musik cadas atau underground macam Led Zeppelin hingga Grand Funk.

Beberapa lagunya seperti Nirwana, Sansekerta, (1983) hingga Badai Bulan Desember, betul-betul menjadi “lagu wajib” musisi rok tahun 70-an. Padahal tahun itu, kompetitor SAS cukup banyak juga. SAS kemudian merekam beberapa album diantaranya Baby Rock (1976), Bad Shock (1976), Blue Sexy Lady (1977), Episode Jingga (1985), Sirkuit (1988) dan Metal Baja (1991). Sampai detik ini bulan ada kata bubar dari ketiga personilnya. Namun hanya Arthur Kaunang yang masih menggeluti musik. Sedangkan Syech Abidin dan Sunata Tanjung lebih memilih fokus ke dunia religious.3. God Bless

God Bless adalah grup musik rock yang telah menjadi legenda di Indonesia. Dasawarsa 1970-an bisa dianggap sebagai tahun-tahun kejayaan mereka. Salah satu bukti nama besar mereka adalah sewaktu God Bless dipilih sebagai pembuka konser grup musik rock legendaris dunia, Deep Purple di Jakarta (1975). Awal terbentuknya God Bless ketika kembalinya Ahmad “Iyek” Albar ke Tanah Air setelah beberapa tahun tinggal di Belanda. Iyek lalu mengajak Ludwig Lemans (gitaris Clover Leaf, band Iyek ketika masih di Belanda), alm. Fuad Hassan (drum) dan Donny Fattah (bass) untuk membentuk band. Ban dtersebut dinamakan Crazy Whells sebelum akhirnya berganti nama menjadi God Bless.

Tahun 1970-an, boleh dibilang adalah masa kejayaan God Bless di panggung. Diantara beberapa band Rock yang timbuh saat itu, sebut saja macam Giant Step, The Rollies dan AKA, God Bless hampir tak tertandingi. Kendati kerap mengusung reportoar asing milik Deep Purple, ELP, hingga Genesis, namun aksi panggung serta skill masing-masing porsonelnya boleh dibilang di atas rata-rata. Di tambah lagi God Bless pernah mendapat kehormatan untuk mendampingi konser Suzi Quarto dan Deep Purple di Jakarta. Namun keseringan menyanyikan lagu asing berimbas pada album perdana mereka, yang banyak terpengaruh sound Genesis.

5 tahun berselang Gob Bless merilih album kedua “Cermin”. Pada album ini, konsep musik God Bless sedikit berubah menghadirkan ramuan aransemen lagu-lagunya terkesan lebih rumit. Album Cermin pun merupakan representasi dari pemberontakan God Bless terhadap dominasi industri rekaman ketika itu yang selalu mencekokkan komersialisme atas tuntutan pasar yang ketika itu sedang didominasi musik pop yang bertemakan cinta dalam pandangan secara sempit. Album ini sering disebut-sebut sebagai album God Bless paling idealis dan terbaik dari sisi musikalitasnya. Dan menjadi barometer kwalitas sebuah band rock waktu itu, manakala mampu memainkan lagu-lagu dari album Cermin.

Pada tahun 1988 God Bless akhirnya melahirkan album come back Semut Hitam yang meledak di pasaran waktu itu, dengan hitsnya seperti Rumah Kita, Semut Hitam, atau Kehidupan. Secara penjualan, album Semut Hitam ini adalah album God Bless paling laris. Di album ini, terjadi lagi perubahan konsep musik God Bless. Dari yang tadinya lebih bernuansa rock progresif secara drastis berubah menjadi sedikit lebih keras dengan adanya pengaruh musik hard rock dan heavy metal. Hingga kini God Bless telah merilis 6 album plus 3 album kompilasi. Tak bisa ditampik apabila God Bless merupakan grup rock terbesar di Indonesia yang masih eksis bermusik hingga sekarang.4. Giant Step

Nama Giant Step memang tidak sefenomenal dan melegenda seperti halnya God Bless. Namun, grup era 1970-an asal Kota Bandung ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka membawakan lagu-lagu orang lain. Dengan kata lain Giant Step merupakan band rock yang berani “melawan arus” pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.

Formasi awal Giant Step terdiri dari Benny Soebardja, Deddy Stanzah, Sammy dan Yockie namun tidak bertahan lama. Kemudian Benny mengajak Adhi Haryadi (bass), Yanto Sudjono (drum), dan Deddy Dores (vokal dan kibor). Tahun 1975 Giant Step mulai masuk dapur rekaman dan memulai debut album yang diberi judul Giant Step Mark-I (1976). ). Tidak lama kemudian Albert Warnerin juga bergabung. Selama perjalanan band ini kerap berganti personil dan sempat lama vakum setelah meluncurkan album Giant Step 6. Sempat come lewat album Gregetan namun setelah itu bubar. Giant Step termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985.5. The Gembells

Band ini berasal dari singkatan unik ‘Gemar Belajar’ yang terbentuk pada Oktober 1969 di Surabaya. Formasi pertama grup ini yaitu Victor Nasution, Rudy Ananta (, Abubakar (bass), Minto Muslimin, Anan Zaman, dan Eddy Mathovani. Hampir seluruh personelnya masih berstatus mahasiswa di beberapa universitas di Surabaya. Tak heran jika formasi pertama The Gembells ini tidak bertahan lama, karena kesibukan setiap personel dengan kuliahnya.

Di tengah derasnya arus musik underground yang dibawakan grup yang sama-sama dari Surabaya, AKA, The Gembells justru berhasil mempertahankan ciri khasnya sebagai grup musik pelantun tembang-tembang dengan lirik yang mengagungkan sikap kepahlawanan dan protes sosial yang aransemen musiknya ditata secara manis. Karena hal itulah The Gembells lebih menyukai aliran dan warna musik mereka dengan sebutan ‘Afro Asia Sound’, yakni perpaduan antara musik Afrika dan musik Asia. Di Indonesia, nama The Gembells jarang dipublikasikan di media massa, namun justru di Singapura, band ini menjadi pembicaraan hangat anak muda di sana.

Share Button